artikel ilmiah

BENCHMARKING PENDIDIKAN

Benchmarking merupakan salah satu cara untuk meningkatkan mutu perguruan tinggi. Dalam lembaga pendidikan Islam benchmarking adalah suatu aktivitas dimana suatu lembaga pendidikan Islam melakukan evaluasi diri secara kontinu, dengan membandingkan dirinya dengan institusi lain yang terbaik atau yang lebih unggul, sehingga institusi tersebut dapat mengidentifikasi, mengadopsi dan mengaplikasikan praktik-praktik yang lebih baik secara signifikan (Syukri, Us, and Fauzi 2019).

Setiap institusi pendidikan di Indonesia khususnya memiliki karakteristik yang berbeda, seperti budaya organisasi, sumber daya, kebijakan pemerintah, dan kebutuhan peserta didik. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui bagaimana konsep benchmarking dapat disesuaikan dengan berbagai konteks pendidikan di Indonesia agar hasilnya lebih optimal (Ruslan and Aminah 2025). Pada awalnya, benchmarking hanya dikenal di dunia bisnis. Namun, saat ini benchmarking telah diadopsi oleh berbagai lembaga pendidikan di luar negeri, sebagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan (Raihanah 2023).

Benchmarking adalah suatu proses yang biasa digunakan dalam manajemen atau umumnya manajemen strategis, dimana suatu unit atau bagian organisasi mengukur dan membandingkan kinerjanya terhadap aktivitas atau kegiatan serupa unit atau bagian organisasi lain yang sejenis baik secara internal maupun eksternal (Lestari et al. 2021). Manfaat dari benchmarking menurut Ross 1994, dalam Tjiptono & Diana  terbagi dalam tiga kelompok besar yakni: (Sunaryo 2019)

  1. Perubahan budaya, dari hasil benchmarking ditentukan target kinerja baru yang lebih realistis, yang berakibat pada perubahan budaya kerja.
  2. Perbaikan kinerja, dari hasil benchmarking dapat diketahui adanya kesenjangan tertentu dalam kinerja dan untuk memilih proses yang akan diperbaiki.
  3. Peningkatan sumber daya manusia, Benchmarking dapat memberi gambaran bahwa apa yang dilakukan oleh perusahaan atau pihak lain telah lebih baik dari apa yang mereka kerjakan selama ini.

Ada dua jenis benchmarking, yaitu benchmarking internal dan benchmarking eksternal. Benchmarking Internal upaya pembandingan standar antar jurusan/fakultas/unit institusi. Benchmarking eksternal adalah upaya pembandingan standar internal institusi terhadap standar eksternal institusi lain (Suluri 2019). Tujuan utama benchmarking adalah untuk menemukan kunci atau rahasia sukses dari sebuah institusi pendidikan yang terbaik dikelasnya, dan kemudian mengadaptasi serta memperbaikinya untuk diterapkan pada institusi yang melaksanakan benchmarking tersebut, di berbagai bidang (Yuniarsih and Suwatno 2008).

Menurut Crown dalam Wahyudi, strategi tersebut pada prinsipnya dapat dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu: (Mardiah et al. 2023)

  1. Pengembangan strategi: Perumusan strategi adalah identifikasi kegiatan yang berkaitan dengan pencapaian tujuan.
  2. Implementasi strategi: Fase ini adalah saat strategi dikembangkan dan kemudian diimplementasikan,
  3. Pengendalian strategis: Untuk mengetahui atau melihat seberapa efektif penerapan strategi tersebut, maka langkah selanjutnya adalah melakukan evaluasi,

Keberhasilan penerapan strategi benchmarking untuk meningkatkan kinerja lembaga pendidikan sangat bergantung pada karakteristik organisasi/lembaga yang efektif (Mardiah et al. 2023). Ketika seorang pemimpin memiliki pandangan visioner, dia harus memiliki strategi dalam mencapai visi misinya tersebut. Salah satu strategi yang dapat dikembangkan adalah strategi benchmarking. Strategi benchmarking ini memungkinkan bagi pimpinan untuk mengkonsep sebuah perencanaan yang dijadikan sebagai pijakan awal dalam menentukan ke mana arah suatu organisasi akan dibawa. Melalui strategi benchmarking ini manajer dapat menjalankan fungsi dan perannya sebagai inovator (Lubis 2016).

author

Kampus Al Fithrah

Institut Al Fithrah Surabaya. Mendalamkan Spiritualitas Meluaskan Intelektualitas.