Belajar Adab Bersama Kitab At-Tibyan: Menjadi Mu’allim dan Muta’allim yang Ikhlas

1 minute, 45 seconds Read

Surabaya — UKM Syauqi Institut Al Fithrah Surabaya kembali menyelenggarakan kegiatan Kajian Kitab At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’an pada Sabtu, 23 Mei 2026, bertempat di Auditorium Lantai 2 Institut Al Fithrah Surabaya dan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube IAF Surabaya. Kajian ini menghadirkan KH. M. Husni Mubarak M.Ag. sebagai pemateri.
Acara dimulai pada pukul 09.00 WIB dengan pembukaan langsung oleh beliau, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan kitab pada bab adab mu’allim dan muta’allim Al-Qur’an. Dalam penyampaiannya, beliau menekankan pentingnya adab dan kebersihan hati bagi seorang penuntut ilmu maupun pengajar Al-Qur’an.
Pada pembahasan mengenai tawadu’, beliau menjelaskan bahwa sikap tawadu’ tidak dapat dinilai hanya dari penampilan lahiriah semata. Seseorang yang sering menunduk ketika bersalaman atau menunjukkan sikap rendah hati secara fisik belum tentu benar-benar memiliki sifat tawadu’. Sebab, hakikat tawadu’ berasal dari hati yang benar-benar merasa rendah di hadapan Allah SWT.
Selain itu, beliau juga menjelaskan secara rinci tentang bahaya riya’ dalam beramal. Riya’ disebut sebagai salah satu penyakit hati yang dapat merusak amal seseorang apabila dilakukan demi mendapatkan penilaian manusia.

Dalam pembahasan tentang ikhlas, KH. M. Husni Mubarak M.Ag. menyampaikan bahwa orang yang benar-benar selamat bukan sekadar mukhlisin (orang yang berusaha ikhlas), melainkan mukhlashin, yaitu orang-orang yang telah Allah ikhlaskan hatinya. Beliau juga memberikan beberapa langkah untuk melatih keikhlasan, yaitu melalui ilmu, mujahadah, dan kepasrahan total kepada Allah SWT. Menurut beliau, mujahadah tidak akan berhasil tanpa adanya bimbingan seorang guru.


Beliau juga menjelaskan bahwa seluruh ajaran tasawuf bersumber dari kejujuran kepada Allah SWT. Orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam mujahadah dan jujur kepada Allah disebut sebagai Asy-Syidqy. Seluruh bangunan tarekat dan perjalanan spiritual pada akhirnya kembali kepada nilai kejujuran tersebut.

Dalam penjelasan lainnya, beliau menyampaikan bahwa para ulama sufi tidak menyukai apabila amal ibadah mereka diketahui oleh orang lain. Berbeda dengan kebanyakan manusia yang senang apabila amalnya dipuji atau diperhatikan. Bahkan ketika seorang ulama sufi melakukan kelalaian, penyesalan mereka muncul karena merasa lalai kepada Allah, bukan karena takut dipandang buruk oleh manusia. Sikap tersebut merupakan bagian dari karakter orang-orang Asy-Syidqy.
Kajian berlangsung dengan khidmat dan penuh antusiasme peserta hingga akhirnya ditutup pada pukul 10.06 WIB dengan doa penutup dan diakhiri sesi foto bersama.

author

Kampus Al Fithrah

Institut Al Fithrah Surabaya. Mendalamkan Spiritualitas Meluaskan Intelektualitas.

Enable Notifications OK No thanks