Dies Maulidiyah Institut Al Fitrah Ke-18

Ribuan Jamaah Banjiri Dies Maulidiyah Institut Al Fitrah Ke-18: Malam Istimewa penuh berkah, Menguatkan Iman dan Mengukir Kebersamaan

2 minutes, 15 seconds Read

Surabaya, Sabtu 2 Agustus 2025 Malam itu, suasana di Lapangan Kampus Institut Al Fitrah (IAF) Surabaya terasa sangat berbeda. Bukan suara hiruk-pikuk kota yang terdengar, melainkan lantunan sholawat, dzikir, dan doa yang menggema memenuhi udara. Ribuan jamaah, dari berbagai usia, larut dalam kekhusyukan Majlis Dzikir Maulidurrasul, sebuah momentum sakral dalam rangka Dies Maulidiyah Institut Al Fitrah Surabaya.

Acara pembuka dimulai dengan pembacaan tawasul dan istighosah. Dilanjutkan dengan pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang dilantunkan secara bergantian oleh mahasiswa Institut Al Fitrah serta santri Pondok Pesantren Assalafi Al Fitrah yang ahli dalam bidangnya. Setelah itu, suasana semakin khidmat dengan pembacaan Maulidurrasul, disambung dengan pembacaan Rowi yang disampaikan oleh para mahasantri dan Habib Ahmad. Jamaah mengikuti prosesi dengan tertib, penuh antusias, dan tanpa ada rasa jenuh, meskipun pelaksanaan masih perlu beberapa penyempurnaan teknis ke depannya.

Dalam sambutannya, Rektor Institut Al Fitrah Surabaya yaitu Dr. H. Rosidi, M.Fil.I mengungkapkan rasa syukur atas kelancaran acara yang berjalan secara produktif dan profesional. Beliau menyampaikan apresiasi kepada panitia, dosen, mahasiswa, serta para tamu undangan yang telah hadir dan menyusun acara ini dengan tertib, dan semoga setiap kegiatan yg dilaksanakan kedepannya dapat berjalan dengan lancar dan berkah, Amin. Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan lantunan qosidah oleh mahasiswa dan santri, menambah keharuan malam spiritual tersebut.

Suasana semakin syahdu ketika mau’idhoh hasanah disampaikan olehDr. H. Imam Yusuf Prayogo yang mana dalam penyampianya, beliau menceritakan kisah keteladanan Hadrotusyakh KH. H. Ahmad Asrori Al Ishaqy, yang diyakini secara ruhani hadir dan menyaksikan majlis tersebut.

Beliau menyampaikan “pentingnya mendidik jasmani dan ruhani, mengutip dalm Surah At-Thariq ayat 5–7, yang menjelaskan asal penciptaan manusia secara jasmani (Biologis) pertemuan sperma dan ovum serta pendidikan ruhani (Spiritual) yang diwujudkan melalui kegiatan seperti dzikir, sholawat, dan pertemuan ruhaniah seperti malam itu. Beliau juga menegaskan bahwa “Manusia memiliki dzahir dan batin. Keduanya harus tumbuh seimbang. Manusia terbaik adalah yang mendidik keduanya secara seimbang.” Para jamaah mendengarkan dengan saksama, beberapa tampak mencatat gagasan yang disampaikan, seolah merenungi setiap kata yang terucap. “Semoga kita semua bisa mengikuti jejak para wali, terutama Hadrotus Syaikh, hingga kelak nanti,” tutup beliau.

Majlis Dzikir malam itu bukan hanya soal spiritualitas. Di baliknya ada semangat gotong royong dan kebersamaan yang menguatkan nilai-nilai ukhuwah. Di bagian belakang lapangan, para relawan mahasiswa dan santri sibuk membagikan makanan dan minuman.

Mereka bekerja sama tanpa pamrih. Sebab Ini sudah menjadi bagian dari otoritas batiniah kami. Kami semua berpartisipasi, meski hanya dengan tenaga. Suasana tetap tertib hingga akhir acara. Ketika doa penutup dibacakan oleh KH. Ainul Yaqin el Ishaqy, seluruh lapangan hening. Jamaah menunduk dalam kekhusyukan. Malam yang dipenuhi dengan barakah di Institut Al Fitrah tidak hanya kisah keteladanan para wali yang dihidupkan, tetapi juga semangat iman, cinta Rasul, dan kebersamaan yang dikuatkan.

# Dies Maulidiyah Institut Al Fithrah (IAF) Surabaya

author

Kampus Al Fithrah

Institut Al Fithrah Surabaya. Mendalamkan Spiritualitas Meluaskan Intelektualitas.