Perjuangan Ibu – Malam tahun baru itu, langit Jakarta dihiasi kembang api yang meledak dengan penuh warna. Namun, bagi Sari, suasana luar tidak berarti apa-apa. Ia berdiri di dapur rumah kecilnya, dengan mata yang lelah, namun penuh semangat. Sebagai seorang ibu tunggal, setiap hari adalah perjuangan. Tahun baru kali ini terasa berbeda. Tidak ada pesta, tidak ada kemeriahan. Hanya ada dirinya dan anak bungsunya, Alif, yang tidur lelap di kamar sebelah.
Sari memandangi piring-piring yang masih berceceran di meja, sisa-sisa makan malam yang sederhana. Namun, ia tak keberatan. Sederhana bukan berarti kurang bermakna. Tahun ini, ia bertekad memberikan yang terbaik untuk Alif, meski segala kesulitan dan rintangan selalu datang silih berganti.
Dua tahun lalu, suaminya meninggal dalam kecelakaan. Sejak saat itu, Sari harus membagi waktunya antara bekerja sebagai penjaga toko dan merawat Alif yang baru berusia tujuh tahun saat itu. Tak jarang, ia harus menahan lelah, begadang hingga larut malam menyelesaikan pekerjaan rumah, dan tetap memastikan Alif merasa dicintai dan diperhatikan.
Malam tahun baru kali ini, Sari hanya punya satu keinginan. Ia ingin melihat senyum Alif, melihat anaknya tumbuh bahagia meski mereka tak memiliki banyak harta. Ia tahu, perjuangannya tak akan sia-sia jika Alif bisa meraih impian dan menjalani hidup yang lebih baik dari dirinya.
“Alif, bangun sayang,” Sari berbisik lembut saat mendekati kamar anaknya. Ia membangunkan Alif, yang masih terlelap dalam mimpi. “Sudah malam, sayang. Selamat tahun baru!”
Alif membuka matanya perlahan, sedikit bingung, namun segera tersenyum begitu melihat ibu di sampingnya. “Ibu, selamat tahun baru!” katanya dengan suara pelan, kemudian memeluk Sari.
Sari memeluk balik anaknya erat. Dalam pelukan itu, ada segala doa, harapan, dan cinta yang tak terucapkan. “Selamat tahun baru, Nak. Semoga tahun ini kita bisa lebih bahagia, lebih sehat, dan kamu bisa semakin pintar,” ucapnya, menyeka air mata yang hampir jatuh. Bukan karena sedih, tetapi karena kebahagiaan yang begitu dalam.
Malam itu, mereka tidak merayakan dengan kembang api atau pesta mewah. Mereka merayakannya dengan cara yang sederhana: kebersamaan dan cinta. Sari tahu, perjuangannya belum selesai. Masih banyak tantangan yang harus dihadapi di tahun baru ini. Namun, ia yakin selama ia masih memiliki Alif di sisinya, segala rintangan akan terasa lebih ringan.
Alif, meskipun masih kecil, mengerti bahwa tahun baru bukan hanya tentang pesta. Ia tahu betapa keras ibunya bekerja untuk memastikan ia memiliki segala yang ia butuhkan, dan lebih dari itu, ia tahu ibunya mencintainya dengan sepenuh hati.
Tahun baru kali ini memang berbeda. Tidak ada pesta atau kemeriahan luar biasa. Namun, bagi Sari, itu adalah tahun baru yang penuh dengan kebahagiaan sejati. Kebahagiaan yang datang dari pengorbanan, perjuangan, dan cinta seorang ibu yang tak terhingga. Dan di tahun baru ini, ia hanya berharap satu hal: bisa terus memberi yang terbaik untuk Alif, agar anaknya tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan bahagia, meskipun mereka tak punya banyak harta.
Dengan penuh harapan, Sari menatap langit malam yang bertabur kembang api, menyadari bahwa perjalanannya sebagai ibu baru saja dimulai, dan ia akan terus berjuang demi masa depan Alif.
Author: Neni Agus Lestari (202212120536)