Pasuruan, Jawa Timur — Dalam rangka meningkatkan kompetensi berbahasa Arab di
kalangan mahasiswa, sebanyak sejumlah santri dari Institut Al Fithrah Surabaya
mengikuti Program Dauroh Romadhoniyah selama 20 hari penuh di Pondok Pesantren
Daarul Lughoh Wadda’wah (DALWA), Pasuruan. Program ini menjadi bagian dari
komitmen bersama antara kedua lembaga dalam menciptakan generasi muda yang tidak
hanya memahami ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga memiliki kemampuan bahasa Arab
yang kuat sebagai alat utama dalam menggali dan menyampaikan ajaran agama secara
lebih luas.
Dauroh Romadhoniyah ini dirancang sebagai program intensif harian, yang menyusun
rangkaian kegiatan sejak dini hari hingga malam, dengan pola kegiatan yang terstruktur
dan terarah. Fokus utama kegiatan ini adalah penguatan empat aspek kebahasaan
utama: mufrodat (kosakata), maharah kalam (kemampuan berbicara), istima’
(kemampuan menyimak), dan khitobah (latihan ceramah). Selain aspek kebahasaan,
program ini juga memberi ruang yang luas bagi pembinaan spiritual melalui ibadah dan
kegiatan pengajian kitab kuning.
Kegiatan harian dimulai pada pukul 03.00 WIB dengan pelaksanaan Qiyamullail dan
sahur secara mandiri di kamar masing-masing. Setelah itu, para santri menunaikan
shalat Subuh berjamaah di masjid yang dilanjutkan dengan wirid pagi serta sesi hafalan
mufrodat yang dibimbing oleh asatidz (para ustadz pendamping). Sesi awal ini menjadi
momen penyegaran ruhani sekaligus pemanasan intelektual sebelum memasuki
kegiatan inti di pagi hari.
Sekitar pukul 06.00 hingga 06.30 WIB, santri melaksanakan olahraga ringan yang
dipadukan dengan praktik percakapan bahasa Arab (Hiwar) di lapangan. Kegiatan ini
dirancang tidak hanya untuk menjaga kebugaran, tetapi juga untuk membangun
keberanian dalam berbicara bahasa Arab secara aktif dalam suasana santai. Setelah
olahraga, para peserta diberikan waktu istirahat hingga pukul 08.30 WIB.
Memasuki waktu belajar utama, santri menyimak ceramah berbahasa Arab melalui
media video di kamar. Materi yang disajikan adalah tema-tema keislaman yang
disampaikan langsung dalam bahasa Arab oleh para ulama atau penutur asli, untuk
memperkuat aspek istima’. Kegiatan kemudian berlanjut dengan pembelajaran intensif
di kelas mulai pukul 09.00 hingga 11.00 WIB. Sesi ini terbagi dalam beberapa
pertemuan yang membahas tata bahasa (nahwu–shorof), percakapan, serta
pengembangan keterampilan menulis dan membaca dalam bahasa Arab.
Selepas itu, santri melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah dan wirid, kemudian
mengikuti latihan ceramah berbahasa Arab sebagai bagian dari pengembangan public
speaking dan kesiapan berdakwah. Dengan tema-tema yang relevan, peserta didorong
untuk menyusun teks ceramah dan menyampaikannya di hadapan rekan-rekan sejawat
secara bergiliran.
Sesi siang hari diakhiri dengan waktu istirahat dan shalat Ashar berjamaah. Menjelang
sore, fokus kegiatan beralih kepada penguatan literasi dan spiritualitas, melalui
pembacaan kitab kuning secara berjamaah bersama pengasuh. Kitab-kitab klasik yang
dibahas menjadi media pelatihan membaca teks Arab gundul sekaligus memperdalam
pemahaman keagamaan santri.
Kegiatan sore ditutup dengan doa bersama dan berbuka puasa (ta’jil), dilanjutkan shalat
Maghrib berjamaah dan wirid. Setelah makan malam dan istirahat ringan, para santri
kembali masuk ke sesi pembelajaran malam (Jam ke-4), yang dimulai pukul 18.45
hingga 19.45 WIB. Pada sesi ini, fokus pembelajaran bergeser kepada penguatan materi
yang sudah didapatkan sebelumnya, dengan pendekatan diskusi dan praktik.
Setelah itu, para santri menunaikan shalat Isya dan tarawih berjamaah, yang menjadi
puncak ibadah harian mereka. Kegiatan malam kemudian ditutup dengan sesi Tamrinul
Istima’, yaitu latihan menyimak bahasa Arab aktif melalui audio atau video yang
dibimbing langsung oleh ustadz pembina. Kegiatan resmi harian berakhir pada pukul
23.00 WIB, dan para santri diberi waktu istirahat sebelum memulai kembali aktivitas
pada pukul 03.00 dini hari keesokan harinya.
Selama 20 hari pelaksanaan, suasana pembelajaran berjalan dengan khidmat dan
antusias. Para santri dari Institut Al Fithrah Surabaya menunjukkan semangat belajar
yang tinggi serta keterlibatan aktif dalam setiap sesi. Selain peningkatan kemampuan
bahasa Arab, program ini juga menjadi ajang silaturahim dan pertukaran budaya antar
pelajar dari berbagai latar belakang.
Melalui program Dauroh Romadhoniyah ini, Pondok Pesantren DALWA Pasuruan
menegaskan komitmennya dalam mencetak generasi da’i dan intelektual Muslim yang
tangguh dalam ilmu, fasih dalam bahasa, dan kokoh dalam spiritualitas. Sementara itu,
bagi Institut Al Fithrah Surabaya, kegiatan ini menjadi bagian penting dari kurikulum
penguatan bahasa Arab dan pengayaan pengalaman keislaman mahasiswa di luar
kampus.
Program ini bukan hanya sekadar pelatihan bahasa, tetapi juga menjadi pengalaman
hidup yang akan membentuk karakter dan wawasan keislaman para peserta untuk
jangka panjang.