DEMA Institut Al Fithrah Surabaya resmi membuka rangkaian kegiatan Leadership Development Course (LDC) 2026 yang dilaksanakan pada 12, 13, dan 16 Mei 2026 di lingkungan kampus Institut Al Fithrah Surabaya. Kegiatan ini menjadi wadah pengembangan kapasitas kepemimpinan, organisasi, serta penguatan paradigma mahasiswa dalam menghadapi dinamika organisasi kampus.
Pelaksanaan hari pertama, Selasa (12/5), diikuti oleh peserta dari berbagai organisasi mahasiswa internal kampus. Kegiatan dimulai sejak pagi hari dengan registrasi peserta, pembukaan resmi, tawasul, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Al Fithrah, serta sambutan dari pihak kampus. Hari pertama LDC difokuskan pada penguatan pemahaman dasar organisasi, kepemimpinan, dan pembentukan pola pikir mahasiswa dalam berorganisasi.
Sesi pertama menghadirkan Faishol sebagai pemateri dengan moderator Mujib Murtadho yang mengusung tema “Pengenalan Organisasi dan Rekonstruksi Paradigma Mahasiswa.” Dalam pemaparannya, Faishol menjelaskan bahwa organisasi bukan sekadar kumpulan individu, melainkan wadah untuk mencapai tujuan bersama. Ia juga menekankan pentingnya memahami perbedaan antara pemimpin dan kepemimpinan agar organisasi tidak berjalan stagnan dan tidak bergantung pada satu pihak saja.
Menurutnya, organisasi memiliki peran penting dalam mengembangkan soft skill, meningkatkan kompetensi, serta membangun komunikasi yang efektif antaranggota. Ia juga menyoroti masih adanya budaya organisasi yang berjalan secara tradisional dan terlalu berpusat pada ketua, sehingga partisipasi anggota menjadi kurang maksimal.
Pada sesi diskusi dan tanya jawab, peserta tampak aktif membahas berbagai persoalan organisasi, mulai dari karakter pemimpin yang ideal, cara membangun kerja sama tim, hingga strategi menghadapi anggota yang pasif dalam menjalankan program kerja.
Sesi kedua diisi oleh Nasrawi dengan tema “Merancang Program Kerja dan Pembentukan Divisi Ideal.” Dalam materinya, ia menjelaskan bahwa penyusunan program kerja harus disesuaikan dengan kebutuhan organisasi dan lingkungan sekitar, bukan sekadar mengikuti tren atau meniru organisasi lain. Menurutnya, organisasi kampus merupakan miniatur negara yang menjadi ruang belajar mahasiswa dalam memahami kebutuhan masyarakat.
Ia juga menegaskan bahwa organisasi yang hanya berorientasi pada tren atau fear of missing out (FOMO) tidak akan mampu bertahan lama. Program kerja yang baik adalah program yang memiliki manfaat nyata dan dapat dirasakan oleh anggota maupun lingkungan sekitar. Setelah pemaparan materi, peserta melanjutkan sesi diskusi terkait pembentukan struktur dan divisi organisasi yang efektif.
Pada sesi terakhir, peserta mendapatkan materi mengenai problem solving dalam konflik organisasi yang disampaikan oleh Vasco. Dalam materinya, ia menekankan pentingnya komunikasi, kerja sama, serta penyelesaian masalah secara bijak dalam menjaga stabilitas organisasi dan hubungan antaranggota. Kegiatan hari pertama ditutup dengan briefing penugasan Focus Group Discussion (FGD) sebagai tindak lanjut dari materi yang telah disampaikan. Rangkaian kegiatan LDC 2026 masih akan berlanjut pada 13 dan 16 Mei 2026 dengan agenda penguatan kepemimpinan, pengembangan organisasi, serta presentasi hasil diskusi peserta.