Surabaya-Kabinet Adikara Bestari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Al Fithrah Surabaya mengadakan Kajian Daring Pra-Ramadhan dengan tema “Pemantapan Spiritual Pra-Ramadhan: Menyongsong Berkah Ramadan” pada Sabtu, 09 Maret 2024 secara daring melalui Zoom Meeting.
Pada kesempatan ini, Ustadz Abdul Mun’im Cholil, M.Ag., sebagai narasumber. Beliau merupakan seorang dosen sekaligus ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Institut Al Fithrah Surabaya. Dimoderatori oleh Luluk Faizah Mahasiswi Program Studi Ilmu Al Qur’an dan Tafsir kegiatan kajian tersebut berjalan dengan kondusif. Rangkaian acara di mulai dengan pembacaan tawasul yang sudah menjadi budaya kampus, kemudian sambutan yang disampaikan oleh Wakil Presiden Mahasiswa yakni Ikhsan Fatahilah. Dalam sambutan tersebut ia menyampaikan ucapan terima kasih dan harapannya dengan adanya kajian tersebut dapat menjadi bekal bagi semuanya dalam menyambut bulan suci Ramadan 1445 H ini.
Materi yang disampaikan menganai tingkatan-tingkatan orang berpuasa atau level puasa. Diantaranya ialah level awam, orang yang hanya sekadar menahan lapar dan haus semata. Meskipun secara fiqih hal tersebut sudah sah namun itu tingkatan paling rendah. Tingkat atau level selanjutnya ialah level khusus. Artinya seseorang berpuasa tidak hanya menahan hawa lapar dan haus melainkan juga meninggalkan setidaknya lima hal yang membatalkan pahala puasa. Adapun hal yang membatalkan pahala puasa tersebut yakni gibah, berbohong, mengadu domba, melihat sesuatu dengan syahwat dan sumpah palsu. Tingkatan tertinggi yakni khusus al khusus. Orang-orang yang dapat dikatakan sebagai golongan khusus al khusus ialah yang mampu menahan segala hawa nafsu dan memfokuskan diri hanya untuk beribadah kepada Allah Swt. Selain itu juga beliau menyampaikan berbagai kiat-kita dalam memantabkan diri baik secara spiritual, fisik maupun emosional dalam meraih keberkahan ramadhan.

Sesi selanjutnya berjalan diskusi aktif dan interaktif antara narasumber dan audiens yang dijembatani dengan baik oleh moderator. Fenomena-fenomena ramadhan yang sering kita jumpai seperti kebiasaan ngabuburit juga turut dilontarakan oleh peserta sebagai pertanyaannya. Apakah ngabuburit diperbolehkan? Begitu kira-kira pertanyaan menohok dari salah satu audien yang merasa bahwa ketika ngabuburit identik dengan mencuci mata dan mencari hiburan. Jawaban bijak dari pemateri ialah segala sesuatu yang dilaksanakan harus didasarkan niat yang baik, agar tidak salah dalam melangkah.
Ada berbagai pertanyaan lainnya yang juga dijawab dengan bijak oleh narasumber sehingga kajian tersebut dapat ditutup dengan penuh khidmah. LF/SLF
#KabinetAdikaraBestari
#BEMIAF
#KajianPraRamadhan