Dari Pesantren Menuju Peradaban Dunia

Al Fithrah dan Nafas Sufisme: Dari Pesantren Menuju Peradaban Dunia

Surabaya, Kampus IAF—Akhir pekan lalu, Pesantren Al Fithrah terasa berbeda kerena kehadiran para akademisis dari Malaysia. Dari kejauhan, para tamu sekitar 19 akademisi asal Malaysia berjalan memasuki halaman pesantren. Mereka datang bukan sekadar menghadiri seminar internasional, melainkan menyelami langsung denyut spiritualitas yang jarang mereka jumpai di kampus-kampus modern.

Pada Sabtu–Ahad, 30–31 Agustus 2025, Pesantren Al Fithrah Surabaya menjadi tuan rumah seminar internasional bertema “Sufism as the Foundation of World Civilization: Academic Collaboration across Southeast Asia.” Acara ini digelar atas kerja sama Institut Al Fithrah (IAF) Surabaya, Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN), dan Pesantren Al Fithrah.

Sejumlah akademisi Malaysia hadir dan sebagai pembicara di antaranya Dato’ Dr. Hasnah Haron (Universiti Sains Islam Malaysia), Dr. Nor Balkhis Zakaria (Universiti Teknologi MARA), dan Dr. Mohd. Fahmi Ghazali (Universiti Kebangsaan Malaysia). Dari pihak tuan rumah, tampil sebagai pembicara Rektor IAF, Dr. KH. Rosidi.

Bagi para tamu, pengalaman berada di Al Fithrah melampaui sekadar agenda akademik. Dr. Hasnah bahkan mengaku terharu. “Al Fithrah ini luar biasa, saya tadi sampai meneteskan air mata. Terasa sekali nuansa sufistiknya, dan ini tidak ada di Malaysia,” katanya dengan suara bergetar.

Kekaguman juga datang dari Dr. Nor Balkhis. Sejak mendapat kabar akan berkunjung ke Al Fithrah, ia sudah lebih dulu menelusuri jejak pesantren ini di internet. “Lihat di internet dan YouTube yang dikirim oleh Pak Rektor, saya sudah kagum sejak di Malaysia. Tapi begitu lihat aslinya, saya lebih kagum lagi. Insha Allah kerja sama ini kita lanjutkan di tahun-tahun berikutnya,” ujarnya.

Sementara itu, Dr. Mohd. Fahmi menilai Al Fithrah memiliki kapasitas kelembagaan yang jauh melampaui pesantren pada umumnya. “Pendiri Al Fithrah ini luar biasa. Secara infrastruktur ini bukan lagi pondok pesantren, ini pantasnya universitas,” tegasnya.

Di sela-sela seminar, peserta tidak hanya disuguhi paparan akademik, tetapi juga merasakan atmosfer spiritual khas thariqah. Selain itu, juga dilakukan penandatangan MoU antara IAF (Institut Al Fithrah) Surabaya dengan Universiti Kebangsaan Malaysia dan Universiti Sains Islam Malaysia.

Rektor IAF, Dr. KH. Rosidi, menekankan bahwa forum internasional ini bukan semata acara seremonial, melainkan langkah strategis membangun jejaring akademik sufisme di Asia Tenggara. “Pesantren dan perguruan tinggi harus bersinergi. Dengan begitu, tasawuf tidak hanya dipelajari sebagai ajaran spiritual, tetapi juga diposisikan sebagai kajian akademis sekaligus fondasi peradaban dunia,” ujarnya.

Di tengah derasnya arus globalisasi yang kerap menyingkirkan dimensi spiritual, kehadiran forum semacam ini menjadi pengingat, bahwa sufisme bukan sekadar warisan tradisi, melainkan sumber inspirasi untuk tatanan dunia yang jauh lebih beradab.

author

Kampus Al Fithrah

Institut Al Fithrah Surabaya. Mendalamkan Spiritualitas Meluaskan Intelektualitas.

Enable Notifications OK No thanks