HIMAPRODI IAT STAI Al Fithrah Adakan Seminar Nasional Tafsir Nusantara

Berita

Hari Rabu tanggal 1 Maret 2017 telah dilaksanakan Kegiatan Seminar Nasional Membedah Khazanah Tafsir Nusantara yang bertema “Menjadikan Generasi Muda yang kaya akan wawasan keagamaan dan kritis dalam menyikapi permasalahan kekinian”. Kegiatan ini dinisiasi oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi (HIMAPRODI) Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (IAT) bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) untuk menyokong pengetahuan para mahasiswa mengenai kajian Ilmu al-Qur’an dan Tafsir. Event ini juga merupakan perdana yang dihelat HIMAPRODI Ilmu Al Qur’an dan Tafsir (IAT) STAI Al Fithrah. Acara dimulai dengan pembukaan yang di buka oleh Ustadz. Ahmad Syatori M.Fil.I. dengan Tawassul serta pembacaan Sholawat Fi Hubbi. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Wahyu Ilahi dan penampilan Qosidah oleh Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Fithrah Surabaya. Acara berikutnya disini dengan sambutan-sambutan. Sambutan yang pertama disampaikan oleh ketua pelaksana, Rico Ruswanto. Sambutan yang kedua mewakili seluruh anggota BEM, disampaikan oleh ketua BEM STAI Al-Fitrhah 2015-2016 M. Atho’illah Nur. Kemudian dilanjutkan oleh sambutan dari Kepala Pondok Assalafi Al-Fithrah sekaligus Kaprodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir STAI Al-Fithrah, Ustadz. H.M. Musyaffa’,M.Th.I.

Seminar kali mendatangkan seorang oakar Tafsir Nusantara, yaitu Dr. Islah Gusmian, M. Ag. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan, “Bahwa mengkaji persoalan khazanah Tafsir Nusantara tidaklah mudah, karena untuk mengkajinya perlu banyak aspek dan ilmu lainnya yang perlu kita ketahui terlebih dahulu. Setidaknya dalam mempelajari sejarah ada dua istilah atau ilmu yang perlu kita pelajari. Yaitu, Ilmu Filologi; Ilmu tentang bahasa, pranata dan sejarah tentang bangsa yang sesuai dengan apa yang tertulis. Dan yang kedua, Ilmu Arkeologi; Ilmu tentang kehidupan dan kebudayaan kuno berdasarkan benda peninggalannya, seperti patung, perkakas rumah tangga dan lain sebagainya; Ilmu purbakala. Panjang lebar beliau menjelaskan terkait pembahasan tersebut.”

Dalam kesempatan ini beliau juga banyak menceritakan tentang penemuan-penemuannya terkait kitab-kitab para Ulama’ tafsir Nusantara. Mulai dari kitab tafsir yang pertama kali ditulis secara lengkap 30 juz, yaitu “Tarjuman Mustafid” yang ditulis oleh Al-Imam Abdur Rouf As-sinkily (1615-1693), sampai kitab tafsir yang hanya menafsirkan Surat Al-Kahfi saja, yang tidak diketahui penulisnya dan disematkan oleh Thomas Erpenius ke belanda.

Lebih dari 10 kitab Ulama’-ulama’ tafsir kita yang beliau temukan juga diberbagai daerah dan negara. Mulai dari kitab tafsir yang selama ini beliau cari kesana kemari keberbagai kota; Kitab Tafsir yang ber-aksara Madura, dan ternyata ditemukan secara tidak sengaja dirumah mertuanya, hingga sampai kitab tafsir ulama’ kita yang beliau temukan di negara-negara eropa.

Dan ternyata banyak ragam bahasa dan aksara yang ditulis oleh para ulama’ tafsir nusantara ini yang beliau temukan juga. Yang pertama, ada aksara jawi berbahasa arab, seperti Kitab Tafsir Tarjuman Mustafid ,juga ada yang berbahasa  melayu. Dan yang kedua Akasara pegon, Ada yang berbahasa jawa, madura maupun yang berbahasa sunda. Yang ketiga Aksara Lontara. Yang keempat Aksara Hanacaraka seperti kitab Tafsir Serat Fatekah (lengkap 30 juz), dan yang terakhir Aksara Laten, seperti kitab Tafsir Tamsyiyatul Muslimin (700 halaman) yang ditulis oleh KH. Ahmad Syamsi.

Setelah pemaparan materi, dilanjut dengan sesi diskusi.

Pertanyaan dan tanggapan :

  1. Bagaimana sepak terjang Buya Hamka sebagai seorang sastrawan yang juga mempunyai karya tafsir? (Pertanyaan dari Achmad Kholilullah, Mahasiswa Program Studi Ilmu Al Qur’an dan Tafsir semester VI)

Tanggapan : Buya Hamka memang dikenal sebagai budayawan sama halnya dengan M.H Ainun Najib dari Yogyakarta, yang juga dikenal sebagai budayawan. Bukan hanya mereka, ada juga ulama yang dikenal sebagai budayawan padahal mereka sebenarnya juga ulung dalam bidang ilmu agama misalnya Gus Mus yang sajak-sajak puisi maupun cerpennya banyak dimuat di buku-buku sastra.

  1. Adakah karya tafsir ulama’ kita yang kejawen? (Nurus Sobah, Santri PDF Ulya lil bannin kelas XII)

Tanggapan : Ada (dijelaskan secara rinci dan detail)

  1. Tafsir hanacaraka (atau yang ditulis dalam tulisan Jawa) siapa yang menemukan pertama kali? (Evinda, santri PDF Ulya lil bannat, kelas XI)

Tanggapan : Untuk menemukan siapa yang pertama kali menemukannya atau menulisnya itu tidak mudah, tapi dalam teks adalah Widyodiningrat yang pertama kali menemukan.

  1. Metode apa yang Bapak gunakan untuk melakukan penelitian ini? (Luthfiyyah, Mahasiswa Program Studi Akhlak Tasawwuf semester IV)

Tanggapan: ayat yang diterjemakan, pendekatan, dan lain-lain. (Dengan penjelasan panjang lebar).

  1. Adakah tafsir yang membahas problematika masyarakat pada masa itu? (Imro’atul Fithriyah, Mahasantri Isti’dad Jami’ah Ula)

Tanggapan : Ada, misalnya tafsir  Al-Huda yang dapat dikutip di dalamnya pernyataan “Negara Kesatuan Republik Indonesia bukan negara Islam, melainkan negara yang mayoritas penduduknya muslim. Maka, hukum di Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Yang mana keduanya sudah mengandung nilai-nilai Islami.

Kesimpulan Seminar Nasional Khazanah Tafsir Nusantara adalah negara kita, Indonesia sebenarnya kaya akan khazanah tafsirnya yang bercorak Indonesia. Namun, dokumentasi negara kita sangat lemah sehingga manuskrip-manuskrip yang sebenarnya dapat kita jadikan kajian di Indonesia ternyata ada di negara lain seperti Belanda. Idealnya kita sebagai calon sarjana Tafsir Al-Qur’an mengkaji lebih lanjuut penelitian-penelitian tentang Tafsir yang ada di Indonesia. ( HIMAPRODI IAT )

 

 

 

Leave a Reply